Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Selasa, 28 Juli 2009

Who is the Boss

Dalam kehidupan, banyak orang yang berlagak boss melebihi bossnya itu sendiri. Ada teman yang penampilannya keren sekali, selalu rapi, pakaian licin dandanan khas laki-laki urban masa kini. Ada juga yang berdandan semakin lama semakin heboh, menyesuikan diri dengan kenaikan pangkat jabatannya. Tadinya manis dan sederhana, sekarang dengan dandanan make up lengkap, rambut kadang di buat seperti spiral, lengkap dengan kutex sesuai warna baju, bahkan dengan warna yang mengerikan hijau atau biru. Mungkin yang bersangkutan tidak menyadari evolusi perubahan cara berdandannya, tapi dijamin yang sudah lama tidak bertemu dengannya akan terkaget-kaget. The real Boss sendiri sederhana, berpakaian selalu batik, ramah, sopan, tidak banyak bicara dan sangat low profile. Padahal atasannya itu juga merangkap sebagai pemilik perusahaan. Banyak orang terkecoh dan menyangka ia adalah bossnya, katanya sih untuk menjadi seorang boss ia harus berakting sebagai boss dulu menyesuaikan. Tidak hanya soal gaya berpakaian, dalam interaksi sehari-hari dengan karyawan lain sang boss palsu ini juga berlagak seperti penguasa tunggal. Lagak dan gayanya sungguh berlebihan, mentang-mentang boss aslinya tidak terlalu memperhatikan sepak terjangnya atau boss asli bersikap demokratis, membiarkan asal pekerjaan beres.
Kalau ada pekerjaan, maka ia akan mendelegasikan dengan cepat, yang enak-enak dan sifatnya dapat dilakukan didepan real boss, maka ia yang akan mengerjakan. Lagaknya selalu mencari kesalahan orang lain, kalau ia menemukannya dengan cepat lapor ke real boss, agar kejelekan orang cepat terlihat. Fasilitas kantor juga dipakai secara maksimal, kalau perlu semua pengeluaran bahkan yang ga jelas apakah pengeluaran pribadi atau perusahaan dimasukan menjadi biaya kantor. Tapi kalau sama teman wah selalu memata-matai dan mengawasi seakan hanya dia yang bener kerjanya, Mengadu kepada boss bahwa teman tidak becus bekerja, tidak jujur dan kurang kompeten. Sama teman saja menyikut apalagi sama bawahan, semua yang dikerjakan bawahan salah,hanya dia yang benar
Terhadap the real boss jug sikapnya sangat dominan, ia yang mengatur ini dan itu, memberi informasi dan arahan mana yang boleh dan mana yang tidak.Dengan kepandaiannya bicara ia mengemukakan berbagai argumen dengan analisa yang masuk akal. Boss tenang aja tidak usah bertemu dengan klien, sebab kita sudah bereskan semua dilapangan, nanti boss kita atur waktu makan siang saja bersama klien. Larangannya agar the real boss tidak bertemu klien kelihatan wajar, katanya boss turun gunung kalau ada masalah besar saja, yang kecil biar saya bereskan. Ternyata dia selalu rutin bertemu klien dan makan siang atau di acara lainnya, tujuannya agar klien lebih dekat dengannya dan jangan menyampaikan masalah dilapangan kepada real boss. Jika suatu saat real boss bertemu klien tanpa sengaja, pendapat klien adalah kok sudah lama kita ga dikunjungi, sombong ya, yang dikirim anak buah terus.
Sebagai atasan apalagi pemilik perusahaan kadang kita merasa sangat terbantu dengan tipe bawahan yang kelihatannya mampu dan mau melakukan segala sesuatu dengan cepat dan penuh inisiatif. Waktu dan kegiatan kita yang terlalu padat dan banyak bepergian membuat tidak mampu menganalisa dengan benar dan akurat. Kadang kita terkecoh oleh penampilan luar bawahan yang terlalu aktif dan selalu berinisiatif mendekati kita. Kebanyakan karyawan yang baik dan tidak neko-neko tidak mendapat perhatian kita karena mereka bekeja dengan baik dan hampir tidak punya waktu buat menjilat atasannya. Sebaiknya kita sebagai atasan, apalagi sebagai pemilik perusahaan tetap melakukan sidak atau inspeksi mendadak langsung kebawah, berbicara dengan para karyawan dan mereka yang satu tingkat dengannya dan tetap mengadakan pertemuan dengan klien secara berkala, jangan percaya begitu saja dengan laporan ABS (Asal Boss Senang).

Tidak ada komentar: