Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Minggu, 12 April 2009

Laporan Langsung Pertemuan ILO di Korea

Pada tanggal 29 Agustus
sampai dengan 1 SePtember
diadakan Pertemuan
ILO Regional tingkat Asia
Empat Tahunan yang ke 14
bertempat di BEXCO,
Busan, korea Selatan.
Berikut laPoran PemimPin
Umum P&B, lftida Yasar
yang mengikuti sidang
tersebut
Pertemuan Organisasi Buruh Internasional
(ILO) selama emPat hari
di Korea Selatan membahas nasib
mereka di kawasan Asia Pasifik. Sebagai
kawasan yang dinilai paling dinamis dibandingkan
dengan kawasan lain, Asia Pasifik
selama ini memang menjadi pusat perhatian dunia
Peserta pertemuan adalah konstituen
ILO, para menteri Tenaga Kerja,perwakilan
dari asosiasi/Federasi Pengusaha,dan Pekerja
yang berasal dari 29 negara Asia dan
Pasifik, serta perwakilan dari 11 negara
Arab dari Asia Barat dan perwakilan dari
organisasi regional.
Acara resmi tanggal 29 Agustus dibuka
oleh Presiden Korea Roh Moo-Hyun, yang
disusul oleh sambutan Perdana Menteri
Srilanka Ratnasiri Wickremanayaka, Perdana
Menteri Jordania Maroef Suleiman
Bakhit dan pemaparan laporan Direktur
Jenderal ILO.
Tema pertemuan "Realizing Decent
Work in Asia" membahas dua laporan dari
Direktur Jenderal ILO yaitu laporan tentang
"Decent work di Asian sejak tahun
2001 -2005 mengenai hasil usaha sosialisasi yang dijalankan ILO diberbagai negara
dan ditingkat regional dan laporan tentang
"Realizing Decent work" di Asia yang
menitik beratkan pada 5 (lima) aspek utama
yang merupakan hal penting untuk merealisasikan "decent work."
Ke lima aspek utama tersebut adalah
mempromosikan pertumbuhan produktifitas
dan lingkungan kerja yang memadai
penyediaan kesempatan kerja yang memadai
untuk pekerja muda.mengatur pekerja
migran, pengaturan pasar kerja dan memperluas
proteksi sosial. Selain itu ada juga
pertemuan khusus para menteri tenaga kerja
serta sesi panel untuk kepala tingkat
regional dan internasional.
Delegasi Indonesia yang mewakili pemerintah
dipimpin oleh Harry H saleh.
wakil kalangan pengusaha diwakili oleh H. Hasanuddin Rachman
dan pimpinan wakil pekerja adalah BuYung Marizal.
pentingnya pertemuan ILO di Korea. T . Suzuki,
aktif di organisaspi engusahad imulai
sejak tahun 1943 dan anggota Government
Body Intemational Labor Organisation, mengatakan,
keterlibatannya di organisasi pengusaha
sampai dengan tingkat Asia dan
dunia adalah didasari niatnya membentuk
para pengusaha yang baik yang mengerti
hak dan kewajibannya.
Dengan menjadi pengusaha yang baik,
kata Suzuki, yang senang mendengarkan
musik, melakukan perjalanan, belajar hal
baru, bermain golf, dan bersepeda,maka
akan tercipta hubungan industrial yang
harmonis antara pengusaha dan pekerja.
Sementara itu, AW Tabani,dari Asosiasi
Pengusaha Pakistan,menegaskan, dengan
membuat keadaan ketenaga kerjaan yang
baik maka akan dihasilkan perjanjian yang
adil, dan membuat tingkat kehidupan masyarakat
dan negara menjadi lebih baik
Tabani, anggota Government Body International
Labor Organisation sejak tahun
1990 yang sering memanfaatkan waktu
luangnya digunakan untuk mendengarkan
musik klasik kegemarannya, olahraga jalan
kaki dan sesekali berenang, mengatakan,
kiprahnya di ILO, baik tingkat Asia maupun
dunia adalah dalam upaya melindungi kepentingan
pengusaha dan investasi nasional.
"Ini agar iklim usaha berjalan dengan
baik, dan tenaga kerja semakin banyak
yang terserap," kata Tabrani yang
pernah menjabat menteri keuangan dan industri
serta sebagai gubernur di Pakistan.
Peserta lain yang juga terlibat aktif dalam
sidang ILO di Korea adalah A.Dahlan,
wakil Pengusaha Arab Saudi yang telah mengikuti
berbagai sidang ILO selama 25.
Dalam pertemuan di Busan ia aktif memberikan
masukan dalam rangka peningkatan kualitas
SDM pekerja migran dan perbaikan lingkungan
kerja yang layak bagi pekerja. Dahlan
juga memberi masukan untuk meningkatan
kualitas TKI/TKW Indonesia yang
dikirim ke sana dan menjajaki kemungkinan
kerjasama program bagi wanita pekerja
mandiri.
Bagi Indonesia,sidang ILO di Korea sebenarnya
memiliki arti yang sangat strategis
jika dimanfaatkan dengan baik. Sayangnya
Indonesia dengan jumlah delegasi yang banyak
kurang mampu berperan aktif dalam
sidang dan acara terkait. Oleh karena itu,
agar sidang semacam ini bisa memberi hasil
optimal,ada baiknya jika sebelum acara berlangsung
diadakan pertemuan berkala antar
delegasi tripartit untuk menyamakan langkah
atau saling memberi informasi agar sebagai
delegasi RI lebih terkoordinasi

Tidak ada komentar: