Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Selasa, 27 Januari 2009

Kalau Bisa Dipersulit kenapa dipermudah

Kalau bisa dipersulit kenapa harus dipermudah

Ingat iklan layanan masyarakat yang menggambarkan buruknya pelayanan publik di Indonesia. Sebagai rakyat untuk mengurus segala sesuatu harus dilalui dengan susah payah dan waktu yang terbuang sia-sia. Urusan KTP sekarang sudah lancar, begitu juga pengalaman saya mengurus perpanjangan pasport, lancar dan pembayaran sesuai dengan harga yang tertera di loket. Sepanjang pengalaman saya PLN sebagai satu-satunya perusahaan yang menyediakan listrik bagi kita masih memberikan pelayanan yang buruk. Listrik bisa saja mati tiba-tiba, hanya PLN dan Tuhan yang tahu kapan listrik akan mati. Coba bagi anda penggemar olahraga sepeda, apakah anda menikmati enaknya bersepeda di kota Jakarta yang macet, berdebu dan penuh dengan lalu lalang kendaraan yang tidak mau mengalah. Jika anda nak bis kota, hanya busway yang agak lumayan baik kebersihan , kenyamanan maupun kelancarannya. Yang lain seperti metro mini, angkot, ojek, bis kota, kereta api rakyat semua memerlukan kesabaran dan juga hati yang lapang untuk tidak protes karena tidak ada pilihan lain.

Hal ini berbeda dengan Jepang teman, disini pepatah diatas tidak berlaku. Jepang sebagai negara yang memahami dan menjalankan dengan baik konsep negara kesejahteraan mampu membuat rakyatnya menikmati dan bangga menjadi orang Jepang. Begitu memasuki bandara Narita terlihat segala sesuatunya telah diatat dengan rapi, mulai dari penataan interior yang menyejukan baik warna maupun perabot yang sederhana dan berkelas, sampai petugas yang melayani dibandara. Mereka menyambut tamu dengan ramah dan menggunakan bahhsa Inggris yang jauh lebih baik dibandingkan ketika saya ke Jepang tahun 1991. Petugas mampu menerangkan untuk mengisi formulir tentang barang yang kita bawa masuk Jepang. Petugas imigrasi berdandan ala anak muda sekarang, rambut gondrong tapi rapi, setelan jas yang modis, ramah dan tidak berwajah angker.

Dari Narita ke Chiba kami naik bis limosin yang bersih dan mewah, kopor bawaan juga dilayani masuk kedalam bagasi. Ada buku saya ketinggalan didalam bis dan baru ingat dua jam kemudian. Oleh petugas hotel dibantu dicarikan pengemudi yang tadi mengantar saya, dan kami bertemu jam 4.16 sore tepat ditempat yang sama dengan buku dikembalikan secara utuh.Sungguh pelayanan yang sopan, cepat dan ramah. Sore hari ditengah cuaca dingin saya belanja di carefour terdekat dari hotel dengan berjalan kaki. Terlihat orang Jepang dengan santai naik sepeda di trotoar lebar yang khusus disediakan bagi pejalan kaki dan pemakai sepeda. Cuaca dingin tidak menghalangi semangat untuk bersepeda karena memang suasana kota memungknkan untuk itu.

Didepan hotel tersedia payung umum yang boleh dipinjam bagi pengunjung hotel yang kebetulan tidak membawa payung.Jika sudah selesai harap dikembalikan dan lama meminjam tidak boleh lebih dari 3 hari. Tidak ada petugas yang mencatat siapa yang memakai payung dan kapan mengembalikannya, apakah lebih dari tiga hari, dan sebagainya, tapi orang Jepang yang taat aturan akan mengikuti aturan pinjam meminjam payung. Taman kota tertata rapih, gedung asrama bersih dan dimana-mana tersedia fasilitas umum yang baik, seperti lobi ruang tunggu, kamar mandi yang bersih, kantin, kamar asrama yang rapih dan bersih. Wow rasanya enak ya jadi rakyat Jepang semuanya diperhatikan dengan baik oleh pemerintahnya.

Bagi saya yang paling berkesan adalah fasilitas kamar mandi umum yang sangat nyaman, toilet umum dilengkapi dengan berbagai tombol dengan warna berbeda sesuai kegunaannya. Ada tombol merah dengan tulisan stop, ada tombol hijau untuk membilas kalau kita buang air kecil, ada tombol pink untuk bilas buang air besar dan yang paling hebat ada tombol putih yang jika dipencet akan mengalunkan lagu. Bagaimana pemerintah Jepang ingin membahagiakan dan melayani rakyatnya terjawab melalui kelengkapan toilet umum tadi, bahkan pada musim dingin seperti sekarang, jika kita duduk di toilet maka akan terasa hangat, begitu juga air bilasan disetel hangat.

Ditempat saya menginap dan mengikuti pelatihan namanya OVTA (Oversea Vocational Training Association), terlihat banyak pekerja Indonesia yang mengikuti kerja magang di Jepang. Anak-anak muda yang kelihatan, gagah, tampan dan memiliki semangat dan harga diri sebagai pekerja. Setiap kali bertemu mereka akan mengucapkan ”Konichiwa” atau selamat siang sambil menunduk dengan sopan. Sungguh membanggakan melihat anak bangsa yang kalau dididik dengan benar mampu membuat dirinya berkualitas. Budaya Jepang yang sopan, disiplin dan semangat bekerja yang tinggi mampu dengan cepat diserap oleh mereka yang berada dilingkungan ini.

Indonesia ne kamu bisa , hai...hai dozo tapi kapan????

1 komentar:

BSN mengatakan...

Jargon seperti judul thread di atas sering saya lontarkan kepada seluruh staf yang complain ke departemen HRD di sebuah kantor. Ini cuma dagelan agar terkesan segala sesuatu punya prosedur yang harus dilalui dikarena banyak staf mengandalkan kedekatan dengan pejabat tertentu untuk sebuah fasilitas. Seperti saat saya hadapi kolega minta cuti, namun jatah cuti sudah habis. Saya minta dia ijin dulu ke atasan dia, namun dia menolak akhirnya saya bilang "kalo bisa dipersulit kenapa dipermudah?". Kemudian ada staf yg minta pinjaman langsung ke HRD, maka jargon itu saya lontarkan lagi sambil tersenyum. Tujuannya agar para staf sadar bahwa masing-masing dituntut untuk profesional dan tidak mengandalkan kedekatan satu sama lain yang ujung-ujungnya adalah melanggar prosedur. Komentar ini sedikit lain Bu, maaf. BTW, toilet di Jepang masih Asia, beda di US yang kering. Jadi hmm.. bagi yang pertama datang ke US, pasti kaget bin bingung karena tdk ada air sama sekali.