Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Sabtu, 24 Januari 2009

Komentar

Dalam beberapa acara gathering atau acara kantor yang bersifat bergembira biasanya kita memanggil organ tunggal lengkap dengan penyanyinya. Penyanyinya selalu tampil seronok dengan dandanan yang aduhai. Berdasarkan pengalaman ini biasanya saya selalu berpesan kepada panitia agar penyanyinya selain dapat menyanyi dengan baik, juga berdandan dengan tidak terlalu menor dan seksi, karena biasanya ibu-ibu terutama bisa merasa gerah melihatnya dan juga para suami yang biasanya getol berjoget menjadi keok dan malu didepan keluarganya jika dipanggil menyanyi.Tapi memang mungkin sudah pakemnya atau standar para penyanyi itu untuk bergoyang dengan seksi dan sedikit senggol-senggolan dengan tamu laki-laki yang turut bernyanyi. Alhasil kami jadi berkomentar mustinya para penyanyi tadi diberi pemahaman mengenai “how to know your customer”, bagaimana mengenal karakter pengundang, apakah kantoran atau rumahan atau kawinan. Jika saja dia mengenal karakter pengundangnya maka dengan cepat ia akan menyesuaikan diri baik dandanannya, maupun cara berjoget dengan para bapak, agar dirumah nanti para suami tidak dijewer atau dicemburui istri karena berjoget terlalu hot.

Kita juga gampang memberi komentar terhadap orang lain, baik penampilan fisiknya, caranya berbicara, berjalan, sampai mengomentari hasil pekerjaan orang lain.Ada yang memang mulutnya gatal dan usil jika melihat orang lain sepertinya kurang beres menurut ukurannya, ada juga yang memang komentarnya bermanfaat dan dapat menjadi masukan yang berharga. Jangan sembarangan memberi komentar pada pertemuan pertama, lebih baik pelajari situasi, mendengarkan dan jika sudah dapat mengetahui keadaan lebih baik baru boleh memberi komentar. Dalam suatu perkenalan dengan seorang pejabat yang cukup tinggi disebuah departemen, saya melihat bapak pejabat tersebut kakinya agak pincang diseret.Dengan maksud memberi perhatian (sok akrab), maka saya mengatakan “Aduh kenapa pak, habis jatuh ya?”, Beliau dan stafnya hanya senyum dan tidak berkomentar lebih jauh, dan ternyata belakangan saya baru tahu memang kakinya agak cacat. Pernah juga saya mengunjungi seorang relasi yang baru melahirkan anak pertama kurang lebih 1 bulan yang lalu. Seperti biasa saya dengan sok akrab mengatakan “Lucu ya rambutnya gundul baru dicukur ya ?”.Ternyata si ibu menjawab memang anaknya dari lahir tidak ada rambutnya alias gundul belum tumbuh..

Kalau mau memberikan komentar berikanlah dengan tulus dan dengan maksud membangun. Sebagai pengajar pada pelatihan pengembangan kepribadian saya selalu bertanya “Apa yang dilakukan jika teman kamu mempunyai bau badan?”.Biasanya topik ini menjadi bahan tertawaan dan jawabannya biasanya mereka enggan memberi tahu, membicarakan dibelakang atau menjauh tidak mau bergaul dengan si BB (bau badan). Saya menganjurkan untuk berani menolong teman tersebut dengan membicarakannya langsung atau secara halus misalnya memberikan salah satu produk penghilang bau badan, atau secara diam-diam memberikan obat itu dalam amplop dengan catatan “ Jangan tinggalkan rumah tanpa memakai produk ini”.Hal ini jauh lebih konstruktif dibandingkan dengan membicarakan teman tadi dibelakang.

Jika teman kita melakukan presentasi mengajukan suatu usulan proyek, bantulah ia dengan memberikan masukan yang membangun.Jika menurut kita sudah bagus katakanlah, tapi jika masih ada yang kurang berikanlah komentar agar usulan proyek itu dapat lebih disempurnakan. Jangan pelit memberikan komentar yang positif, apalagi merasa rugi jika komentar yang kita berikan kepada teman dapat menjadi perbaikan yang membuat teman tadi mendapatkan nilai lebih. Pengetahuan, pengalaman kita yang diberikan kepada orang lain melalui komentar kita bukan saja bermanfaat bagi si penerima, tapi juga bagi kita karena kita akan terbiasa memberikan kontribusi yang positif bagi lingkungan kerja. Orang yang paling bermanfaat adalah orang yang bermanfaat banyak bagi orang lain.

Tidak ada komentar: