Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Selasa, 28 Juli 2009

Kesabaran tidak ada batasnya

Kalau bicara tentang kesabaran apakah atau dimanakah batas kesabaran itu? Apa bedanya orang sabar dengan goblok? . Jika istri terus menerus dikhianati oleh suaminya dan terus menerus memaafkan apakah ini yang namanya sabar? Atau ini yang namanya goblok, tidak bisa melihat bahwa tidak ada gunanya memaafkan suami yang terus menerus berhohong kepada kita.

Ketika kita mengetahui bahwa suami berbohong yang pertama kita lakukan adalah mengungkapkan dan membicarakan kebohongan itu dengan fakta yang ada, jangan ditambah jangan dikurang. Jangan ditambah karena biasanya saking emosi kita membuat suatu kesimpulan atau tuduhan yang berlebihan dengan berdasarkan fakta yang ada. Jika kita berlebihan menambah tanpa dasar yang kuat, maka suami malah menjadi mempunyai alasan untuk menganggap kita berhalusinasi dan mementahkan fakta dan data yang ada Jangan dikurangi, maksudnya jika fakta yang ada begitu gamblang dan banyak tapi kita hanya mengatakan sedikit karena tidak tega atau kita sendiri tidak kuat menghadapi kenyataan itu. Banyak perempuan yang tidak mampu mengungkapkan fakta kepada suaminya karena ia sendiri menghindari atau menipu dirinya dengan tidak mau mempercayai fakta ini. Jika ini yang terjadi, maka suami biasanya menganggap istri hanya tahu sedikit dan dia masih berada dalam piosisi aman untuk meneruskan penyelewengannya . Jadi kemukakan fakta sesuai dengan data yang ada dan kemukakan dengan tenang walaupun tidak dapat dihindari akan ada airmata dan kemarahan ,

Jika akhirnya pasangan bercerai, maka alasan yang dipakai biasanya “sudah sampai batas kesabaran, sudah tidak bisa lagi bersabar menerima kebohongan terus menerus:. Masalah selesai dan masing-masig pihak menjalani hidup sendiri.Bagi istri atau suami yang masih bisa bersabar menerima kebohongan pasangannya, maka ini yang disebut bahwa kesabaran itu tidak ada batasnya. Mempertahankan keutuhan rumah tangga dengan usaha yang terus menerus dengan jalan baik adalah “jihad”. Suami atau istri yang kebetulan istri atau suaminya sedang tergoda kepada pihak lain, atau mempunyai sifat yang buruk sekali seperti berbohong, berjudi, selingkuh, mempunyai pilihan untuk bersabar atau menyelesaikan masalah dengan berpisah.Jika mereka mau melakukan ”Jihad” atau bejuang dijalan Allah, maka itu lebih baik.

Jangan berfikir bahwa hanya suami atau laki-laki saja yang selalu melakukan perselingkuhan, berbohong atau sifat jelek lainnya. Ada surat pembaca disuatu acara konsultasi keluarga, dimana seorang anak bertanya ”apa yang harus dilakukan jika ibunya selalu berbohong, sering pergi kedukun dan selingkuh?. Anak itu kasihan kepada ayahnya yang dengan sabar mencoba mempertahankan rumah tangganya. Ada juga kenalan yang mempunyai istri yang senang berjudi dan selingkuh. Sejak muda istrinya tidak pernah mengurus rumah dan anak-anak, ia sering berjudi dan selingkuh dengan laki-laki lain. Uang belanja dan barang-barang yang ada dirumah sering dijual untuk keperluan judi. Kalau kalah ia marah dan kalau ditegor istrinya lebih galak, bahkan sering mengamuk memecahkan barang atau memukul suaminya. Suaminya sabar, bahkan pada saat pensiun sebagian besar uang pensiunnya habis untuk melunasi hutangnya..sekarang dimasa tuanya kenalan tadi tetap bekerja untuk diriya sendiri mencari kesibukan, anak-anaknya sudah bekerja dan mentas, jadi bebannya sudah agak ringan. Ada juga perempuan yang sudah mempunyai suami pejabat, terhormat, dikarunia anak yang pintar, cantik, ganteng, bahkan sudah mantu. Tapi mau menukar kehormatan, kemuliannya sebagai perempuan dan ibu dengan nafsu, maksiat dan zina. Dengan alasan sakit hati karena suaminya selingkuh, maka ia membalas juga dengan selingkuh. Akhirnya keluarganya berantakan, ia dicerai, anak-anaknya marah dan sekarang hidup menjanda tanpa anak dan suami, sedngkan laki-laki selingkuhannnya adalah suami orang yang tidak akan mau menukar istri dan keluarganya demi perempuan yang telah menjual dirinya dengan murah itu.

Ada istri siri yang sudah mempunyai anak dua, akhirya ditinggal oleh suaminya kembali kepada istri tuanya. Ia ditelantarkan, tanpa diberi nafkah bahkan tidak diurus anak-anaknya. Akhirnya ia datang kerumah istri tuanya dan menyerahkan anak-anaknya yang waktu itu berumur 3 dan 5 tahun kepada istri tuanya. Ditinggalkan saja anak-anak itu tanpa pernah ditengok dan dihubungi sampai akhirnya istri muda itu meninggal dunia. Jadi kedua anak tadi menganggap ibu tirinya adalah ibu kandung mereka dan sampai mereka kawin dan mentas diurus oleh ibu tirinya. Sungguh sangat jarang perempuan yang mau mengurus dan membesarkan anak-anak dari madunya yang sebenarnya menyakiti dan menghancurkan perasaannya. Ada juga suami istri yang bercerai karena suaminya kawin lagi, padahal istrinya adalah seorang pejabat yang sebenarnya selain menjaga rumah tangganya dengan baik juga membantu ekonomi keluarga. Dengan kesabaran dan doa Allah memberikan jalan keluar dengan mencabut nyawa istri mudanya itu lebih dahulu. Sekarang dalam usia memasuki pensiun, mereka kembali lagi bersama, berbahagia membina rumah tangga kembali.

Memang sabar dan terus menerus berjihad dijalan Allah dalam upaya mengembalikan pasangan kejalan yang benar adalah perjuangan yang sangat berat. Banyak orang yang putus asa dan tidak mau bersabar dalam menghadapi cobaan, apalagi jika cobaan itu datang dalam bentuk penghianatan dalam perkawinan. Berapa banyak nyawa melayang akibat ruwetnya hubunga cinta yang terlarang. Suami membunuh istrinya atau istri meracuni suaminya, bahkan ada kasus dimana istri bunuh diri bersama dengan anak-anaknya karena suami kawin lagi. Bersabar mempertahankan keutuhan keluarga bukan perbuatan bodoh, tapi jihad yang memang harus kita lakukan semaksimal mungkin. Insya Allah suatu saat pasangan kita akan sadar dan menjadi jauh lebih baik lagi kepada keluarganya jika hidayah itu datang.

Iftida Mewakili APINDO dengan Dukungan KADIN dalam- PENYUSUNAN STANDAR INTERNASIONAL UNTUK PEKERJA RUMAH TANGGA

1. Dasar pemikiran standar ketenagakerjaan International Untuk Pekerja Rumah Tangga.

Dasar pemikiran untuk mendukung sebuah konvensi ketenagakerjaan internasional dan
sebuah rekomendasi yang terkait mengenai hak-hak ketenagakerjaan pekerja rumah tangga
meliputi:

Pekerja rumah tangga merepresentasikan satu kelompok terbesar pekerja yang tak
terlindungi, dan satu kelompok terbesar pekerja perempuan berbayar yang bekerja di
dalam rumah tangga orang lain di negara mereka sendiri atupun di luar negeri, yang
dikecualikan dari undang-undangk etenagakerjaand i sebagianb esar negara dan seringkali
ditolak hak-hak dasarny4 seperti kebebasan berserikat dan perlindungan dari
diskriminasi, pekerja anak dan pelbagai kondisi kerja paksa.

Pekerja rumah tangga membuat pekerja lain dan keluarganya mampu meningkatkan
standar hidup mereka dengan melakukan perawatan terhadap rumah-rumah mereka, dan
para anggota rumah tangga (anak-anak, orang lanjut usia, orang sakit, dan orang cacat).

Di pelbagai negara, seperti sebagian besar negara Asia dan Arab, di mana kebijakan sosial
tidak mencakup kebutuhan pekerja dan keluargtrrya akan perawatan, pekerja rumah
tangga melaksanakan perawatan rumah tangga yang banyak dibutuhkan tersebut sehingga
memungkinkan kaum perempuan di dalam rumah tangga menjadi atau terus aktif secara
ekonomi.

Faktanya, jika tidak diberikan oleh pekerja rumah tangga, jasa yang diperlukan oleh
rumah tangga akan menghabiskan biaya berlipat-lipat lebih banyak jika disewa dari
penyedia jasa berbasis pasar, (binatu, katering, penitipan anak, panti jompo, dll.)

Karena pekerjaanya dilakukan di rumah-rumah pribadi, yang di banyak negara tidak
dianggap sebagai tempat kerja, hubungan kerja mereka tidak dicakup di dalam undang-undang
ketenagakerjaan nasional atau di dalam undang-undang lainnya, sehingga
membuat mereka tidak diakui sebagai pekerja yang berhak atas perlindungan pekerja.
Namun, beberapa negara Asia, seperti Filipina dan Hongkong, telah meloloskan undang-undang
mengenai pekerjaan rumah tangga yang membuat cakupan perlindungan pekerja
menjangkau pekerja rumah tangga.

Kerentanan khusus pekerja rumah tangga terhadap pelecehan dan eksploitasi dengan
tiadanya perlindungan pekerja dan inspeksi tempat kerja, serta beragamnya ketentuan
kerja, metode pengupahan, jam kerja dan aspek-aspek lain dari kondisi kerja mereka
membutuhkan pertimbangan dan standar tersendiri yang diadaptasikan pada kondisi
mereka.

Telah lama ILO mengemukakan perlunya pemberian perhatian khusus terhadap pekerja rumah tangga. Faktanya, Konfrensi International Labour.
Conference secara reguler telah menyerukan dilakukannya penyusunan standar untuk
pekerja rumah tanggasejak tahun 1936 hingga kini.


Namun, perhatian terhadap pelbagai aspek utama pekerjaan rumah tangga di dalam
hukum internasional, termasuk pelbagai konvensi ILO yang telah ada, tetap saja tidak
memadai. Faktanya, sejumlah konvensi ILO memperbolehkan pengecualian kategori
pekerja ini dari cakupan ketentuan-ketentuanm ereka..


Banyak pekerja rumah tangga yang merupakan perempuan migran' Di negara asal mereka'
banyak dari mereka yang memiliki kualifikasi yang jauh lebih tinggi dari pada
yang dipersyaratkan untuk pekerja rumah tangga tetapi realitas sosial dan kebutuhan akan
uang
untuk bertahan hidup memaksa para perempuan tersebut untuk mau pergi dan
bekerja sebagai pekerja rumah tangga dengan kondisi kerja yang pasti terkait dengan
kondisi hidup dan perlakuan secara umum membuat mereka rentan terhadap pelecehan
dan eksploitasi tenaga kerja.

Terdapat jutaan pekerja rumah tangga di negara-negara Asia dan Arab. Sebagian besar
merupakan perempuan Asia dan perempuan Afrika dari keluarga miskin yang
meninggalkan rumah dan orang-orang yang mereka sayangi untuk bekerja dengan upah
yang sangat rendah dan secara total bergantung kepada majikan/sponsor mereka. Mereka
dikecualikan dari hak-hak ketenagakerjaan nasional di sebagian besar negara Asia dan
Arab dengan status ganda mereka sebagai migran dan pekerja rumah tangga

Di banyak negara, pekerjaan rumah tangga dianggap bentuk pekerja anak yang paling
berbahaya, karena iittggittyu kecenderungan tedadinya pelecehan dan eksploitasi di
rumah-rumah pribadi. Namun di banyak negara, anak-anak berusia lima tahun bekerja
sepanjang hari di dalam rumah tangga, tanpa kesempatan untuk belajar, bermain dan
berkembang.

Sejumlah pemerintah baru-baru ini memulai langkah untuk membuat kebijakan nasional
dan perlindungan hukum bagi pekerja rumah tangga dan sejumlah pemerintah lainnya
sedang mempertimbagkan untuk melakukan hal yang sama. Standar internasional, pada
saatnya, akan memberikan arahan bagi langkah-langkah semacam itu.

Rabu, 15 Juli 2009

Merancang Perjanjian Kerja Outsorcing

Perjanjian kerja alih daya (outsourcing) merupakan hubungan kerja sama antara perusahaan alih daya (vendor) dengan perusahaan pengguna jasa yang diikat dalam suatu perjanjian tertulis. Perjanjian tersebut dapat berbentuk perjanjian pemborongan pekerjaan atau perjanjian penyediaan jasa pekerja. Dalam perjanjian kerja tersebut, diatur dengan jelas siapa yang dimaksud dengan para pihak, jenis pekerjaan yang akan dialihdayakan beserta penjelasan tambahan lainnya. Selain itu, dalam perjanjian tertulis itu juga harus disebutkan dengan jelas fasilitas yang diberikan oleh pengguna jasa, misalnya telepon, pulsa, atau peralatan yang merupakan bagian dari kelengkapan kerja. Hal lain yang juga harus disebutkan adalah tingkatan jabatan si pekerja dan kewenangannya.
Pengertian tentang alih daya dapat dilihat dalam pasal 64 UU Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003, yang isinya menyatakan bahwa perusahaan dapat menyerahkan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan lainnya melalui perjanjian pemborongan pekerjaan yang dibuat secara tertulis. Sementara itu, menurut Pasal 1601 b Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, alih daya disamakan dengan perjanjian pemborongan pekerjaan. Dengan demikian, pengertian alih daya adalah suatu perjanjian di mana pemborong (pengguna jasa) mengikat diri dengan vendor untuk memborongkan pekerjaan dengan bayaran tertentu.



Judul : Merancang Perjanjian Kerja Outsourcing
Penerbit : PPM
Harga : Rp.50.000(Sudah Termaksud Ongkos Kirim)
Untuk Pemesanan hubungi : Reza (PFI) 70640169
Email : Shiddique_eza@yahoo.com
Norek:(BCA)7660168855
(Muamalat)3041494420
(Niaga)025-01-09061
Semuanya Atas Nama Iftida Yasar
Bukti Transfer Harap di Fax ke nomor:021-93903943

Senin, 01 Juni 2009

Sayang, Cinta, Honey

Banyak laki-laki beristri yang mengobral kata-kata mesra Honey, Sayang, Cinta kepada teman perempuannya. Padahal mungkin ia tidak pernah memanggil istrinya dengan sebutan mesra seperti itu. Dalam meeting atau pergaulan sehari-hari yang namanya panggilan Cantik, Cinta, Sayang, Baby menjadi hal yang biasa.Begitu juga jika mengirim sms, jadi jangan kaget para istri jika menemukan di HP suaminya sms yang berisi kata-kata ”Ok sayang atau terima kasih cantik atau kita jadi ketemuan ga cinta?”. Begitu diobralnya kata-kata mesra itu sampai menjadi kehilangan maknanya. Sesama perempuan juga sering memanggil ”Say, Darling” menandakan keakraban. Pernah seorang suami membalas sms ke nomor yang menuliskan kata-kata sayang dengan isi ”Hei Bangsat, jangan sayang-sayangan sama istri gue”, taunya yang dikirim sms perempuan yang namanya sama dengan nama laki-laki. Banyak nama yang bisa untuk laki-laki bisa juga untuk perempuan, misalnya Reza, Sri, Tri, Dwi, dsb.

Tidak semua perempuan suka dengan paggilan seperti itu, apalagi perempuan karir yang mandiri. Mereka merasa panggilan itu menunjukan bahwa perempuan dianggap tidak sederajat, lebih lemah, manja dan dapat digoda. Saya pernah juga melihat film dimana pemeran utama perempuan marah dan tidak senang dipanggil ”Babe”, ”I am not your Baby” katanya dengan ketus. Tapi ada juga perempuan yang senang dan GR (Gede Rasa) dengan panggilan mesra seperti itu. Biasanya mereka nanti menjadi kecewa karena ternyata ”yayang nya” banyak bukan dia saja. Ada juga yang karena tidak pernah dipanggil sayang oleh suaminya, menjadi jatuh cinta dengan laki-laki yang sering memanggilnya dan memperlakukannya bak kekasih pujaan. Padahal mungkin saja lelaki itu memang mengobral kata-kata mesra demi untuk TP (Tebar Pesona) dan iseng bukan dari hatinya. Tapi jika ada perempuan yang terjaring masuk perangkap rayuan gombal, yah apa boleh buat, masa rezeki ditolak sih.

Saya sendiri termasuk yang risi dan tidak senang jika dipanggil dengan sebutan seperti itu. Rasanya kata-kata Cinta, Sayang, lebih tepat ditujukan kepada orang yang memang spesial sperti suami, istri, anak, ponakan dan keluarga dekat. Pengalaman saya yang memanggil kita dengan sebutan sayang, cantik, mau diapain rambutnya, dengan gaya kenes adalah para banci yang menjadi kapster. Tidak ada effek sama sekali panggilan tersebut, bahkan saya suka geli mendengarnya karena terlalu sering diucapkan. Kalau yang memanggil kita sayang adalah pria idaman yang hanya memperuntukan panggilan itu untuk kita seorang dan tidak mengobralnya baru bolehlah kita merasa geer

Jadi jangan terlalu serius mengartikan kata-kata mesra yang ditujukan kepada kita dari para lelaki iseng tadi, apalagi lalu jatuh cinta pada mereka, tetaplah sopan dan profesional dalam menghadapi situasi seperti ini.

Senin, 04 Mei 2009

Perempuan dan Mistik

Dalam banyak cerita hantu , perempuan mempunyai peranan mendominasi dunia perhantuan. Dalam legenda Indonesia hantu perempuan adalah kuntilanak, wewe gombel, Nyi Blorong, Ratu pantai Selatan, mak lampir. Sedangkan hantu laki-laki lebih sedikit misalnya pocong, buto ijo dan kalau di dunia barat drakula. Apakah di zaman yang modern ini kita masih percaya hal yang sifatnya mistik?. Kalau ditanya mungkin tidak mengaku percaya, tapi dalam kenyataannya film horor laku keras dari masa kemasa. Kalau saya tidak mau tuh nonton film horor, masa bayar tiket bioskop untuk ditakutin, apa enaknya, lebih baik melihat film romantis, petualangan atau komedi, dimana begitu film selesai kita pulang dengan bahagia.

Ketika anak-anak kita juga sering ditakut takuti oleh ibu kita tentang banyaknya hantu yang berkeliaran kalau magrib dan malam hari. Rupanya menurut ilmu metafisika dan juga menurut agama, setan dan jin itu keluar pada saat pergantian waktu dari siang ke malam, ya pada saat menjelang dan sesudah magrib.jadi ada benarnya para orang tua melarang anaknya bermain diluar rumah pada saat itu.

Kembali ke masalah mistik, dimana kita percaya bahwa Tuhan menciptakan manusia dan jin untuk beribadah kepada Ku (Allah). Jadi memang makhluk gaib itu ada dan bagian dari kehdupan kita. Yang sering salah diartikan adalah kadang manusia dalam keadaan kepepet atau terpaksa meminta bantuan dukun untuk memecahkan masalahnya. Padahal dukun itu meminta bantuan setan , dan kedudukan setan dibandingkan dengan manusia lebih rendah. Hanya manusia bodoh saja yang percaya kepada dukun yang menjanjikan penyelesaian suatu masalah dengan cepat. Minta bantuan dukun merupakan jalan pintas, dimana manusia sedang kehilangan akal sehatnya.

Perempuan yang takut tidak mendapatkan jodoh memasang susuk atau ajian pengasih agar cepat dapat jodoh. Begitu juga yang suaminya sedang diganggu perempuan lain, pergi kedukun minta bantuan agar suami kembali. Dilain pihak perempuan simpanan suaminya juga menggunakan dukun agar selingkuhannya lengket dan meninggalkan istrinya. Ada yang berhasil membutakan pasangan selingkuhnya atau suami yang dinikahi karena harta, mereka mendapatkan limpahan harta dari suaminya karena laki-laki itu bagaikan buta dan patuh total segala kehendak perempuan itu. Mereka berhasil mengeruk harta sebanyak-banyaknya selagi laki-laki itu masih dibawah pengaruh kekuatan susuknya.

Ada juga yang mau membuka usaha pergi ke dukun untuk mendapatkan air atau ajian agar usahanya lancar. Supaya lawan bicara terpikat dan percaya bahwa kita bonafit, maka kita pasang susuk atau membuka aura. Dengan susuk atau aura, maka wibawa terpancar dan orang seakan kagum dan akan memberikan pekerjaan kepada kita. Kalau mau jual rumah atau mobil maka ada ajian lain yang membuat barang yang kita jual cepat laku. Ada teman yang dongkol setengah mati dengan salah satu warung makan. Ia makan disana karena melihat begitu banyak orang antri dan makanannya cepat saji tradisional sunda. Dia hanya makan ayam 1, tempe 1 dan es teh manis, ternyata harus membayar Rp 30.000. Padahal dia mau irit dan makan di warung yang kelihatannnya sederhana dan sekelas warteg. Walau dia protes tapi sudah terlanjur dimakan, dan hanya dia sendiri yang protes. Komentarnya mungkin pake dukun warung itu, sebab mahal, ga enak, panas dan sempit tapi pembelinya antri sekali.Dalam politik kantor juga ada perempuan yang menggunakan kekuatan dukun untuk membuat atasannya sayang sama dia. Menjadi kesayangan boss akhirnya membuat karirnya cepat naik, walau mungkin kompetensinya tidak memadai.

Menurut teman yang belajar metafisika, bahwa jika kita memakai susuk berarti memasukan benda asing kedalam tubuh. Dalam waktu yang lama, maka akan ada penolakan secara alamiah terhadap benda asing tadi. Susuk berupa berlian atau apa saja akan merusak jaringan syaraf . Sebenarnya tidak ada yang ”instan” untuk mencapai sesuatu, tetapi banyak perempuan yang gamang dan kurang percaya diri untuk mencapai cita-citanya dengan usahanya sendiri. Dalam pernyataan para dukun yang sudah tobat, mereka mengatakan bahwa sebenarnya efek atau hasil dari kekuatan dukun yang dibantu setan hanya bersifat sementara, dukun hanya mensugesti agar pasiennya percaya dan bertambah percaya dirinya. Jadi jangan percaya dukun, tetaplah berusaha dan bekerjja keras dalam mencapai cita-itamu. Jangan lupa juga membaca tanda-tanda jika keluarga kita mungkin terkena ilmu gaib, katanya tanda-tandanya suka marah dan selalu gelisah atau sakit terus menerus yang tidak dapat di deteksi oleh dokter. Jika ini terjadi tidak ada salahnya meminta bantuan orang yang punya kelebihan, lebih sensitif, lebih tau agar dapat menolong kita, setelah secara akal sehat dengan pergi ke dokter tidak dapat kita selesaikan.

Perempuan Bekerja

Dalam sebuah buku yang ditulis oleh seorang ahli agama yang terkemuka dikatakan bahwa jika suami kita dapat mencukupi kebutuhan keluarga seharusnya perempuan tidak perlu bekerja mencari penghasilan tambahan. Keberkahan sebuah rumah tangga bukan dikarenakan banyaknya uang yang dihasilkan berdua, tapi lebih berkah jika hanya suami saja yang bekerja. Jika saja pemerintah membayar gaji yang cukup kepada para suami untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya atau memberikan gaji kepada perempuan yang mau mengurus anaknya dirumah, maka persoalan dalam rumah tangga akan tidak ada. Perempuan menjalankan fungsinya sebagai penjaga dan tiang rumah tangganya sedangkan suami mencari nafkah. Perempuan yang tinggal dirumah dapat mengurus anak dan suaminya dengan tenang, sehingga tercipta suasanan rumah tangga yang rukun, damai penuh cinta kasih.

Ketika perempuan mulai meninggalkan rumah mencari uang sendiri dengan mengatas namakan karir dan persamaan hak, maka mulailah timbul masalah. Dari segi pendapatan memang meningkat yang tadinya hanya bergaji Rp 3 juta ditambah Rp 3 juta lagi menjadi Rp 6 juta. Tapi ingat pengeluaran juga bertambah, uang yag tadinya Rp 3 juta dicukup-cukupkan untuk keperluan keluarga menjadi dirasa kurang ketika penghasilan bertambah. Adanya kebutuhan untuk transportasi lebih, jika tempat kerja berbeda, anggaran untuk sarapan (kalau tidak sempat sarapan dirumah), makan siang, makanan kecil ekstra untuk sore hari, anggaran untuk pembantu, baby sitter dan konsumsi untuk mereka yang ikut kita menjadi biaya yang kurang diperhitungkan pada awal mulanya. Belum lagi biaya untuk perlengkapan bekerja, mulai dari baju, tas, sepatu, kosmetik, HP,laptop dan biaya ke salon, pijat karena stress, dll. Uang yang tadinya terlihat banyak malahan dengan perempuan bekerja menjadi kurang.

Idealnya memang jika suami dapat mencukupi kita tidak usah bekerja diluar rumah, terutama ketika anak-anak masih balita (bawah lima tahun) yang merupakan ”golden age” tahun emas, dimana mereka menyerap hampir 80 % dari segala sesuatu disekitarnya. Masa ini sangat penting karena akan mempengaruhi kecerdasan mereka dimasa yang akan datang dari segala segi, intelektual, emosional dan spiritual Jadi sangatlah salah jika dalam masa penting dan rentan ini mereka diserahkan kepada orang yang kualitasnya lebih rendah dari kita, misalnya pembantu rumah tangga. Jika pengasuhan diserahkan kepada orang tua atau saudara yang mempunyai kualitas yang setara dengan kita, maka masih dapat diterima.

Dalam kenyataannya hidup di dunia ini tidak ada yang ideal, segala ketidak adilan, masalah, penderitaan , akan selalu mengiringi langkah kita.Untuk mereka yang tidak beruntung bekerja adalah suatu keharusan, jika tidak bekerja maka tidak bisa makan. Mereka hanya sekedar bertahan untuk hidup. Banyak perempuan yang stress karena harus memikul beban ganda, sebagai ibu rumah tangga dan juga harus bekerja mencari nafkah. Ada yang suaminya di PHK sehingga beban keluarga menjadi berada dipundaknya. Keadaan menjadi makin parah jika suami yang tidak bekerja tidak mau menyingsingkan tangan membantu urusan rumah tangga.

Keadaan ini bukan saja terjadi dilingkungan keluarga miskin, tapi juga di keluarga yang kaya. Perempuan dari kalangan keluarga kaya mendapat pendidikan bagus sehingga mereka juga mendapatkan pekerjaan yang bagus. Karena keadan ekonomi baik, maka tidak terlihat bagaimana bentuk penderitaan mereka, atau walau menderita tapi mereka tetap mempunyai uang banyak. Kalau dipikir dan dapat memilih tentu saja mereka juga ingin bahagia, sebab uang tidak akan dapat membeli kebahagiaan..Banyak perempuan perkasa macam ini harus berjuang sendiri memikul beratnya beban kehidupan, Untuk urusan domestik, uang mereka dapat menggaji pembantu, sopir dan penjaga anak yang terbaik, tapi tetap saja jiwa mereka kering dan haus kasih sayang. Para suami parasit ini jelas sudah terbiasa hidup enak, mereka tidak mau susah walaupun sebenarnya mereka tidak punya pekerjaan yang jelas. Kerjanya nongkrong di café, lobby sana sini dan bergaya dengan segala fasilitas orang tua atau istrinya.

Ada teman yang pintar, cantik dan dari keluarga kaya, mempunyai suami yang memilih profesi tidak jelas, bergonta ganti profesi. Setiap kali gagal istrinya turun tangan menyelesaikan semua masalah baik moril maupun materil Orang tua perempuan sampai jengkel sekali sebab tagihan kartu kredit untuk membiayai gaya hidup glamor masih dibayarkan mertuanya. Teman tadi mungkin cinta setengah mati atau sudah menerima takdirnya dengan ikhlas. Saya pernah kerumahnya dia sedang masak banyak sekali, saya pikir ada acara apa, rupanya memang suaminya sedang dalam program pembentukan badan jadi hanya boleh makan daging saja. Suami yang tidak jelas pekerjaan dan pendapatannya ini bagai raja diladeni dan diberikan makanan yang terbaik oleh istrinya. Saya dengar anaknya menangis keras sedangkan teman saya sedang sibuk memasak, ayahnya yang dekat anak tadi sedang menonton TV tidak perduli dengan tangisan anaknya.Pernah dalam keadaan susah tidak punya mobil, sang suami tidak pernah mau naik bis, maunya taksi, bahkan tidak mau memanggilkan taksi, jadi sang istri dengan sabar berdiri dipinggir jalan memanggilkan taksi buat sang raja tega.Perempuan begitu ikhlasnya mencari nafkah, meladeni suami, mengurus anak, sementara sang raja tega dengan tenangnya hidup senang tanpa perduli bagimana membantu istrinya mencukupi kebutuhan rumah tangga.

Jika saja perempuan berada dirumah dan memberikan kesempatan bekerja kepada laki-laki, maka mungkin keadaan akan menjadi lebih baik. Tapi bagaimana dengan emansipasi, dengan persamaan hak, dengan investasi yang telah ditanamkan dalam bentuk pendidikan, apakah dengan tidak bekerja ia menjadi sia-sia hidupnya? Tidak jika ia ikhlas menerima dan menjalankan perannya sebagai sumber kasih sayang dan pengetahuan bagi keluarganya, maka ia akan bahagia menjalankan kehidupannya. Kalau saya ingat perjalanan hidup saya rasanya dulu pada saat anak-anak masih kecil dengan pendapatan kita yang serba pas tetap membuat kita bahagia. Saya bekerja sebagai asisten dosen dengan honor yang kecil, jualan segala macam peralatan rumah tangga dengan sistem 10: 1, artinya laku 10 saya dapat 1. Dengan begitu saya dapat menghemat pengeluaran dengan tidak membeli barang-barang seperti kompor, piring, karpet, gelas, dll. Karena saya hanya bekerja beberapa jam seminggu, maka banyak waktu dipergunakan untuk bermain dengan anak sambil belajar bagaimana berumah tangga. Setiap sore sehabis anak mandi, berjalan-jalan keliling komplek sambil menunggu suami pulang. Rasanya bahagia sekali melihat papanya pulang, kadang membawa martabak atau buah sebagai oeh-oleh.

Seiring perjalanan waktu, begitu anak pertama berumur 8 tahun dan anak kedua berumur 3 tahun saya mulai bekerja full time sebagai manager disebuah bank asing. Lompatan yang sangat besar dari seorang free lancer menjadi manager perusahaan besar dengan segala fasilitasnya. Gaji besar, jatah mobil terbaru, keanggotaan di klub ternama dan kesibukan yang luar biasa membuat adanya perubahan cara pandang. Semakin sulit mendifinisikan arti bahagia, semua menjadi bersifat materi dan UUD (Ujung-Ujungnya Duit). Persoalan rumah tangga satu persatu muncul dan semakin rumit karena ego yang bicara. Masing-masing merasa benar dan sebagai perempuan yang mempunyai penghasilan besar mulai berfikir bahwa hidup sendiri lebih bahagia.Berbagai masalah dan penderitaan yang menempa bagaikan seekor ulat buruk rupa yang berubah menjadi kepompong dan akhirnya keluar menjadi kupu-kupu cantik. Perjuangan menuju ikhlas dan percaya bahwa semua harta benda tidak ada artinya jika rumah tangga kita tidak rukun. Rumah tangga adalah surga dunia yang diciptakan Allah untuk kita, jadi jangan pernah berhenti berjuang mempertahankannya.Hanya dengan berpegang kepada aturan Allah dan Rasulnya, maka kita perempuan yang bekerja tetap menempatkan kebahagiaan keluarga diatas segalanya.Kita rela meninggalkan semua kehidupan semu duniawi untuk mendapatkan kebahagian dan surga dunia, melalui keluarga sakinah, mawadddah dan rahmah. amien