Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Senin, 01 Juni 2009

Sayang, Cinta, Honey

Banyak laki-laki beristri yang mengobral kata-kata mesra Honey, Sayang, Cinta kepada teman perempuannya. Padahal mungkin ia tidak pernah memanggil istrinya dengan sebutan mesra seperti itu. Dalam meeting atau pergaulan sehari-hari yang namanya panggilan Cantik, Cinta, Sayang, Baby menjadi hal yang biasa.Begitu juga jika mengirim sms, jadi jangan kaget para istri jika menemukan di HP suaminya sms yang berisi kata-kata ”Ok sayang atau terima kasih cantik atau kita jadi ketemuan ga cinta?”. Begitu diobralnya kata-kata mesra itu sampai menjadi kehilangan maknanya. Sesama perempuan juga sering memanggil ”Say, Darling” menandakan keakraban. Pernah seorang suami membalas sms ke nomor yang menuliskan kata-kata sayang dengan isi ”Hei Bangsat, jangan sayang-sayangan sama istri gue”, taunya yang dikirim sms perempuan yang namanya sama dengan nama laki-laki. Banyak nama yang bisa untuk laki-laki bisa juga untuk perempuan, misalnya Reza, Sri, Tri, Dwi, dsb.

Tidak semua perempuan suka dengan paggilan seperti itu, apalagi perempuan karir yang mandiri. Mereka merasa panggilan itu menunjukan bahwa perempuan dianggap tidak sederajat, lebih lemah, manja dan dapat digoda. Saya pernah juga melihat film dimana pemeran utama perempuan marah dan tidak senang dipanggil ”Babe”, ”I am not your Baby” katanya dengan ketus. Tapi ada juga perempuan yang senang dan GR (Gede Rasa) dengan panggilan mesra seperti itu. Biasanya mereka nanti menjadi kecewa karena ternyata ”yayang nya” banyak bukan dia saja. Ada juga yang karena tidak pernah dipanggil sayang oleh suaminya, menjadi jatuh cinta dengan laki-laki yang sering memanggilnya dan memperlakukannya bak kekasih pujaan. Padahal mungkin saja lelaki itu memang mengobral kata-kata mesra demi untuk TP (Tebar Pesona) dan iseng bukan dari hatinya. Tapi jika ada perempuan yang terjaring masuk perangkap rayuan gombal, yah apa boleh buat, masa rezeki ditolak sih.

Saya sendiri termasuk yang risi dan tidak senang jika dipanggil dengan sebutan seperti itu. Rasanya kata-kata Cinta, Sayang, lebih tepat ditujukan kepada orang yang memang spesial sperti suami, istri, anak, ponakan dan keluarga dekat. Pengalaman saya yang memanggil kita dengan sebutan sayang, cantik, mau diapain rambutnya, dengan gaya kenes adalah para banci yang menjadi kapster. Tidak ada effek sama sekali panggilan tersebut, bahkan saya suka geli mendengarnya karena terlalu sering diucapkan. Kalau yang memanggil kita sayang adalah pria idaman yang hanya memperuntukan panggilan itu untuk kita seorang dan tidak mengobralnya baru bolehlah kita merasa geer

Jadi jangan terlalu serius mengartikan kata-kata mesra yang ditujukan kepada kita dari para lelaki iseng tadi, apalagi lalu jatuh cinta pada mereka, tetaplah sopan dan profesional dalam menghadapi situasi seperti ini.

Senin, 04 Mei 2009

Perempuan dan Mistik

Dalam banyak cerita hantu , perempuan mempunyai peranan mendominasi dunia perhantuan. Dalam legenda Indonesia hantu perempuan adalah kuntilanak, wewe gombel, Nyi Blorong, Ratu pantai Selatan, mak lampir. Sedangkan hantu laki-laki lebih sedikit misalnya pocong, buto ijo dan kalau di dunia barat drakula. Apakah di zaman yang modern ini kita masih percaya hal yang sifatnya mistik?. Kalau ditanya mungkin tidak mengaku percaya, tapi dalam kenyataannya film horor laku keras dari masa kemasa. Kalau saya tidak mau tuh nonton film horor, masa bayar tiket bioskop untuk ditakutin, apa enaknya, lebih baik melihat film romantis, petualangan atau komedi, dimana begitu film selesai kita pulang dengan bahagia.

Ketika anak-anak kita juga sering ditakut takuti oleh ibu kita tentang banyaknya hantu yang berkeliaran kalau magrib dan malam hari. Rupanya menurut ilmu metafisika dan juga menurut agama, setan dan jin itu keluar pada saat pergantian waktu dari siang ke malam, ya pada saat menjelang dan sesudah magrib.jadi ada benarnya para orang tua melarang anaknya bermain diluar rumah pada saat itu.

Kembali ke masalah mistik, dimana kita percaya bahwa Tuhan menciptakan manusia dan jin untuk beribadah kepada Ku (Allah). Jadi memang makhluk gaib itu ada dan bagian dari kehdupan kita. Yang sering salah diartikan adalah kadang manusia dalam keadaan kepepet atau terpaksa meminta bantuan dukun untuk memecahkan masalahnya. Padahal dukun itu meminta bantuan setan , dan kedudukan setan dibandingkan dengan manusia lebih rendah. Hanya manusia bodoh saja yang percaya kepada dukun yang menjanjikan penyelesaian suatu masalah dengan cepat. Minta bantuan dukun merupakan jalan pintas, dimana manusia sedang kehilangan akal sehatnya.

Perempuan yang takut tidak mendapatkan jodoh memasang susuk atau ajian pengasih agar cepat dapat jodoh. Begitu juga yang suaminya sedang diganggu perempuan lain, pergi kedukun minta bantuan agar suami kembali. Dilain pihak perempuan simpanan suaminya juga menggunakan dukun agar selingkuhannya lengket dan meninggalkan istrinya. Ada yang berhasil membutakan pasangan selingkuhnya atau suami yang dinikahi karena harta, mereka mendapatkan limpahan harta dari suaminya karena laki-laki itu bagaikan buta dan patuh total segala kehendak perempuan itu. Mereka berhasil mengeruk harta sebanyak-banyaknya selagi laki-laki itu masih dibawah pengaruh kekuatan susuknya.

Ada juga yang mau membuka usaha pergi ke dukun untuk mendapatkan air atau ajian agar usahanya lancar. Supaya lawan bicara terpikat dan percaya bahwa kita bonafit, maka kita pasang susuk atau membuka aura. Dengan susuk atau aura, maka wibawa terpancar dan orang seakan kagum dan akan memberikan pekerjaan kepada kita. Kalau mau jual rumah atau mobil maka ada ajian lain yang membuat barang yang kita jual cepat laku. Ada teman yang dongkol setengah mati dengan salah satu warung makan. Ia makan disana karena melihat begitu banyak orang antri dan makanannya cepat saji tradisional sunda. Dia hanya makan ayam 1, tempe 1 dan es teh manis, ternyata harus membayar Rp 30.000. Padahal dia mau irit dan makan di warung yang kelihatannnya sederhana dan sekelas warteg. Walau dia protes tapi sudah terlanjur dimakan, dan hanya dia sendiri yang protes. Komentarnya mungkin pake dukun warung itu, sebab mahal, ga enak, panas dan sempit tapi pembelinya antri sekali.Dalam politik kantor juga ada perempuan yang menggunakan kekuatan dukun untuk membuat atasannya sayang sama dia. Menjadi kesayangan boss akhirnya membuat karirnya cepat naik, walau mungkin kompetensinya tidak memadai.

Menurut teman yang belajar metafisika, bahwa jika kita memakai susuk berarti memasukan benda asing kedalam tubuh. Dalam waktu yang lama, maka akan ada penolakan secara alamiah terhadap benda asing tadi. Susuk berupa berlian atau apa saja akan merusak jaringan syaraf . Sebenarnya tidak ada yang ”instan” untuk mencapai sesuatu, tetapi banyak perempuan yang gamang dan kurang percaya diri untuk mencapai cita-citanya dengan usahanya sendiri. Dalam pernyataan para dukun yang sudah tobat, mereka mengatakan bahwa sebenarnya efek atau hasil dari kekuatan dukun yang dibantu setan hanya bersifat sementara, dukun hanya mensugesti agar pasiennya percaya dan bertambah percaya dirinya. Jadi jangan percaya dukun, tetaplah berusaha dan bekerjja keras dalam mencapai cita-itamu. Jangan lupa juga membaca tanda-tanda jika keluarga kita mungkin terkena ilmu gaib, katanya tanda-tandanya suka marah dan selalu gelisah atau sakit terus menerus yang tidak dapat di deteksi oleh dokter. Jika ini terjadi tidak ada salahnya meminta bantuan orang yang punya kelebihan, lebih sensitif, lebih tau agar dapat menolong kita, setelah secara akal sehat dengan pergi ke dokter tidak dapat kita selesaikan.

Perempuan Bekerja

Dalam sebuah buku yang ditulis oleh seorang ahli agama yang terkemuka dikatakan bahwa jika suami kita dapat mencukupi kebutuhan keluarga seharusnya perempuan tidak perlu bekerja mencari penghasilan tambahan. Keberkahan sebuah rumah tangga bukan dikarenakan banyaknya uang yang dihasilkan berdua, tapi lebih berkah jika hanya suami saja yang bekerja. Jika saja pemerintah membayar gaji yang cukup kepada para suami untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya atau memberikan gaji kepada perempuan yang mau mengurus anaknya dirumah, maka persoalan dalam rumah tangga akan tidak ada. Perempuan menjalankan fungsinya sebagai penjaga dan tiang rumah tangganya sedangkan suami mencari nafkah. Perempuan yang tinggal dirumah dapat mengurus anak dan suaminya dengan tenang, sehingga tercipta suasanan rumah tangga yang rukun, damai penuh cinta kasih.

Ketika perempuan mulai meninggalkan rumah mencari uang sendiri dengan mengatas namakan karir dan persamaan hak, maka mulailah timbul masalah. Dari segi pendapatan memang meningkat yang tadinya hanya bergaji Rp 3 juta ditambah Rp 3 juta lagi menjadi Rp 6 juta. Tapi ingat pengeluaran juga bertambah, uang yag tadinya Rp 3 juta dicukup-cukupkan untuk keperluan keluarga menjadi dirasa kurang ketika penghasilan bertambah. Adanya kebutuhan untuk transportasi lebih, jika tempat kerja berbeda, anggaran untuk sarapan (kalau tidak sempat sarapan dirumah), makan siang, makanan kecil ekstra untuk sore hari, anggaran untuk pembantu, baby sitter dan konsumsi untuk mereka yang ikut kita menjadi biaya yang kurang diperhitungkan pada awal mulanya. Belum lagi biaya untuk perlengkapan bekerja, mulai dari baju, tas, sepatu, kosmetik, HP,laptop dan biaya ke salon, pijat karena stress, dll. Uang yang tadinya terlihat banyak malahan dengan perempuan bekerja menjadi kurang.

Idealnya memang jika suami dapat mencukupi kita tidak usah bekerja diluar rumah, terutama ketika anak-anak masih balita (bawah lima tahun) yang merupakan ”golden age” tahun emas, dimana mereka menyerap hampir 80 % dari segala sesuatu disekitarnya. Masa ini sangat penting karena akan mempengaruhi kecerdasan mereka dimasa yang akan datang dari segala segi, intelektual, emosional dan spiritual Jadi sangatlah salah jika dalam masa penting dan rentan ini mereka diserahkan kepada orang yang kualitasnya lebih rendah dari kita, misalnya pembantu rumah tangga. Jika pengasuhan diserahkan kepada orang tua atau saudara yang mempunyai kualitas yang setara dengan kita, maka masih dapat diterima.

Dalam kenyataannya hidup di dunia ini tidak ada yang ideal, segala ketidak adilan, masalah, penderitaan , akan selalu mengiringi langkah kita.Untuk mereka yang tidak beruntung bekerja adalah suatu keharusan, jika tidak bekerja maka tidak bisa makan. Mereka hanya sekedar bertahan untuk hidup. Banyak perempuan yang stress karena harus memikul beban ganda, sebagai ibu rumah tangga dan juga harus bekerja mencari nafkah. Ada yang suaminya di PHK sehingga beban keluarga menjadi berada dipundaknya. Keadaan menjadi makin parah jika suami yang tidak bekerja tidak mau menyingsingkan tangan membantu urusan rumah tangga.

Keadaan ini bukan saja terjadi dilingkungan keluarga miskin, tapi juga di keluarga yang kaya. Perempuan dari kalangan keluarga kaya mendapat pendidikan bagus sehingga mereka juga mendapatkan pekerjaan yang bagus. Karena keadan ekonomi baik, maka tidak terlihat bagaimana bentuk penderitaan mereka, atau walau menderita tapi mereka tetap mempunyai uang banyak. Kalau dipikir dan dapat memilih tentu saja mereka juga ingin bahagia, sebab uang tidak akan dapat membeli kebahagiaan..Banyak perempuan perkasa macam ini harus berjuang sendiri memikul beratnya beban kehidupan, Untuk urusan domestik, uang mereka dapat menggaji pembantu, sopir dan penjaga anak yang terbaik, tapi tetap saja jiwa mereka kering dan haus kasih sayang. Para suami parasit ini jelas sudah terbiasa hidup enak, mereka tidak mau susah walaupun sebenarnya mereka tidak punya pekerjaan yang jelas. Kerjanya nongkrong di café, lobby sana sini dan bergaya dengan segala fasilitas orang tua atau istrinya.

Ada teman yang pintar, cantik dan dari keluarga kaya, mempunyai suami yang memilih profesi tidak jelas, bergonta ganti profesi. Setiap kali gagal istrinya turun tangan menyelesaikan semua masalah baik moril maupun materil Orang tua perempuan sampai jengkel sekali sebab tagihan kartu kredit untuk membiayai gaya hidup glamor masih dibayarkan mertuanya. Teman tadi mungkin cinta setengah mati atau sudah menerima takdirnya dengan ikhlas. Saya pernah kerumahnya dia sedang masak banyak sekali, saya pikir ada acara apa, rupanya memang suaminya sedang dalam program pembentukan badan jadi hanya boleh makan daging saja. Suami yang tidak jelas pekerjaan dan pendapatannya ini bagai raja diladeni dan diberikan makanan yang terbaik oleh istrinya. Saya dengar anaknya menangis keras sedangkan teman saya sedang sibuk memasak, ayahnya yang dekat anak tadi sedang menonton TV tidak perduli dengan tangisan anaknya.Pernah dalam keadaan susah tidak punya mobil, sang suami tidak pernah mau naik bis, maunya taksi, bahkan tidak mau memanggilkan taksi, jadi sang istri dengan sabar berdiri dipinggir jalan memanggilkan taksi buat sang raja tega.Perempuan begitu ikhlasnya mencari nafkah, meladeni suami, mengurus anak, sementara sang raja tega dengan tenangnya hidup senang tanpa perduli bagimana membantu istrinya mencukupi kebutuhan rumah tangga.

Jika saja perempuan berada dirumah dan memberikan kesempatan bekerja kepada laki-laki, maka mungkin keadaan akan menjadi lebih baik. Tapi bagaimana dengan emansipasi, dengan persamaan hak, dengan investasi yang telah ditanamkan dalam bentuk pendidikan, apakah dengan tidak bekerja ia menjadi sia-sia hidupnya? Tidak jika ia ikhlas menerima dan menjalankan perannya sebagai sumber kasih sayang dan pengetahuan bagi keluarganya, maka ia akan bahagia menjalankan kehidupannya. Kalau saya ingat perjalanan hidup saya rasanya dulu pada saat anak-anak masih kecil dengan pendapatan kita yang serba pas tetap membuat kita bahagia. Saya bekerja sebagai asisten dosen dengan honor yang kecil, jualan segala macam peralatan rumah tangga dengan sistem 10: 1, artinya laku 10 saya dapat 1. Dengan begitu saya dapat menghemat pengeluaran dengan tidak membeli barang-barang seperti kompor, piring, karpet, gelas, dll. Karena saya hanya bekerja beberapa jam seminggu, maka banyak waktu dipergunakan untuk bermain dengan anak sambil belajar bagaimana berumah tangga. Setiap sore sehabis anak mandi, berjalan-jalan keliling komplek sambil menunggu suami pulang. Rasanya bahagia sekali melihat papanya pulang, kadang membawa martabak atau buah sebagai oeh-oleh.

Seiring perjalanan waktu, begitu anak pertama berumur 8 tahun dan anak kedua berumur 3 tahun saya mulai bekerja full time sebagai manager disebuah bank asing. Lompatan yang sangat besar dari seorang free lancer menjadi manager perusahaan besar dengan segala fasilitasnya. Gaji besar, jatah mobil terbaru, keanggotaan di klub ternama dan kesibukan yang luar biasa membuat adanya perubahan cara pandang. Semakin sulit mendifinisikan arti bahagia, semua menjadi bersifat materi dan UUD (Ujung-Ujungnya Duit). Persoalan rumah tangga satu persatu muncul dan semakin rumit karena ego yang bicara. Masing-masing merasa benar dan sebagai perempuan yang mempunyai penghasilan besar mulai berfikir bahwa hidup sendiri lebih bahagia.Berbagai masalah dan penderitaan yang menempa bagaikan seekor ulat buruk rupa yang berubah menjadi kepompong dan akhirnya keluar menjadi kupu-kupu cantik. Perjuangan menuju ikhlas dan percaya bahwa semua harta benda tidak ada artinya jika rumah tangga kita tidak rukun. Rumah tangga adalah surga dunia yang diciptakan Allah untuk kita, jadi jangan pernah berhenti berjuang mempertahankannya.Hanya dengan berpegang kepada aturan Allah dan Rasulnya, maka kita perempuan yang bekerja tetap menempatkan kebahagiaan keluarga diatas segalanya.Kita rela meninggalkan semua kehidupan semu duniawi untuk mendapatkan kebahagian dan surga dunia, melalui keluarga sakinah, mawadddah dan rahmah. amien

Senin, 13 April 2009

The Most

The Most

Beberapa tahun yang lalu saya menemani anak saya yang kedua membuat PR bahasa Inggris. Saya mengerjakan sesuatu dan dia mengerjakan PR nya. Beberapa kali ia menanyakan arti dari bahasa Inggris yang menjadi tugasnya, dan saya menerangkan maksudnya. Rupanya ia mendapat tugas menggambarkan siapa orang atau tokoh yang menurut dia paling …dalam segala hal. Saya ingat dia menanyakan arti “The most influenced people in your life atau siapa orang yang paling berpengaruh terhadap kehidupannya. Lalu pertanyaan lain yaitu apa arti “The Cleverest person, atau siapa orang yang paling pintar menurut dia?.Setelah selesai mengerjkan PR nya dia minta tanda tangan saya. Tentu saja saya memeriksa dulu PR yang dikerjakannya sebelum saya tanda tangani.

Ternyata sangat membanggakan nama saya ada dua dalam PR yang dibuatnya. Dia menyebutkan My mother as the most influenced person in his life. Rupanya ajaran yang saya berikan dan bagaimana membentuk kepribadiannya berbekas sangat besar dalam dirinya. Alhamdulillah saya mengucapkan sukur, sebab ibu adalah tiang utama yang membentuk karakter dan kepribadian anaknya. Hal kedua yang membuat saya terharu dan bangga adalah “The cleverest person dia juga menyebutkan “My Mother”. Ibu mana yang tidak bangga dan berbunga-bunga hatinya mendapatkan pujian sebagai orang yang paling pintar yang dikenalnya. Anak saya waktu itu sudah duduk dikelas 3 SMP , memasuki usia remaja yang mungkin saja banyak tokoh idola yang bisa diambilnya tapi bukan ibunya.

Saya mencoba memastikan apakah pilihannya benar, apakah ia ingin berfikir ulang terutama tentang “the cleverest person”, siapa tau ada tokoh lain yang lebih top. Dia bilang ga ada, mama adalah orangnya. Jawabannya sederhana, cepat, dan dengan senyum, sebab anak saya ini memang hemat dalam berbicara. Terima kasih sayang telah memilih mama menjadi orang yang paling berpengaruh dalam kehidupan kamu dan juga menjadi orang yang paling pintar menurut kamu yang kamu kenal. Tidak ada kebahagian dan kebanggaan bagi seorang ibu yang mengetahui bahwa anaknya juga membanggakan dan menyayanginya.

My Mother My Friend

My Mother My Friend

Bulan Maret kemarin anak saya memberikan kartu ulang tahun yang bertuliskan “My Mother My Friend” .Ucapan selamat ulang tahunnya berisi doa dan harapan agar saya sehat, lebih demokratis, menghargai pendapat orang lain dan gak marah-marah terus. Rupanya ucapan selamat ulang tahun merangkap curhat jeritan hati seorang anak.

Yang membuat saya terkesan sekali adalah pemilihan kartu ulang tahunnya yang berwarna hijau kombinasi ungu dan coklat dengan tulisan besar-besar ”My Mother My Friend”. Dalam pergauln sehari-hari dengan anak memang kadang saya otoriter untuk hal-hal yang bersifat prinsip seperti menanamkan karakter jujur, sopan, dan mementingkan silaturahmi. Ada hal yang tidak bisa dikompromikan dan menjadi bagian yang hitam putih, bukan abu-abu.Dalam banyak hal kami sering berselisih paham dan biasanya jadi beradu argumentasi. Ada saat dimana saya sedang sensitif saya merasa anak saya terlalu mendiskusikan hal-hal yang sifatnya tidak penting. Mungkin tidak penting untuk saya tapi penting untuk dia.

Tidak banyak anak yang menganggap ibunya adalah teman, biasanya mereka memisahkan kehidupan pribadinya bersama teman dengan kehidupan bersama keluarganya. Ada teman saya yang sekan mempunyai kepribadian ganda, dirumah ibunya melihat dia sebagai anak manis yang penurut dan menjadi kebanggaan orang tua. Ternyata diluar rumah dia banyak melakukan perbuatan yang kalau orang tuanya tahu mungkin akan membuat ibunya sakit jantung. Ibunya sangat over protective sehingga kemanapun kegiatan anaknya ia ingin tahu. Mungkin karena ingin bebas tapi tidak mau menyakiti hati ibunya, maka teman saya itu mempunyai banyak rahasia termasuk kehidupan bebasnya yang ibunya tidak akan pernah mampu membayangkan.

Kembali ke kartu ”My Mother My Friend:, dengan segala kegeeran saya mengambil kesimpulan kenapa anak saya berkata begitu. Hubungan komunikasi saya dan anak begitu terbuka, kami menyampaikan pendapat selalu dengan dasar kejujuran, walaupun mungkin tidak enak. Jika saya mau mengemukakan pendapat , akan saya sampaikan dengan jelas dan tanpa berputar-putar, yang intinya anak akan mengerti mana yang baik, mana yang jelek, mana yang boleh dan mana yang tidak. Begitu juga anak saya, dia tidak akan menyembunyikan fakta tentang kehidupannya dari saya sebagai ibunya. Teman-temannya saya kenal baik, begitu juga beberapa orang tua dari teman dekatnya. Jika dia bolos atau berkelahi atau angka raportnya atau IP nya jeblok, saya akan tahu. Dengan siapa dia berpacaran saya juga mengenal teman dekatnya.

Mungkin itu yang menjadi dasar kenapa ia menganggap saya adalah temannya, sebab teman adalah orang yang paling dekat dengan kita dalam suka dan duka. Teman akan memberitahu kita jika perbuatan kita ada yang salah.Teman akan menerima kita apa adanya, tanpa pamrih .Pertemanan yang didasarkan saling percaya, kejujuran dan menerima apa adanya akan menjadikan hubungan pertemanan langgeng. Terima kasih sayang telah menganggap mama sebagai teman kamu

Minggu, 12 April 2009

Laporan Langsung Pertemuan ILO di Korea

Pada tanggal 29 Agustus
sampai dengan 1 SePtember
diadakan Pertemuan
ILO Regional tingkat Asia
Empat Tahunan yang ke 14
bertempat di BEXCO,
Busan, korea Selatan.
Berikut laPoran PemimPin
Umum P&B, lftida Yasar
yang mengikuti sidang
tersebut
Pertemuan Organisasi Buruh Internasional
(ILO) selama emPat hari
di Korea Selatan membahas nasib
mereka di kawasan Asia Pasifik. Sebagai
kawasan yang dinilai paling dinamis dibandingkan
dengan kawasan lain, Asia Pasifik
selama ini memang menjadi pusat perhatian dunia
Peserta pertemuan adalah konstituen
ILO, para menteri Tenaga Kerja,perwakilan
dari asosiasi/Federasi Pengusaha,dan Pekerja
yang berasal dari 29 negara Asia dan
Pasifik, serta perwakilan dari 11 negara
Arab dari Asia Barat dan perwakilan dari
organisasi regional.
Acara resmi tanggal 29 Agustus dibuka
oleh Presiden Korea Roh Moo-Hyun, yang
disusul oleh sambutan Perdana Menteri
Srilanka Ratnasiri Wickremanayaka, Perdana
Menteri Jordania Maroef Suleiman
Bakhit dan pemaparan laporan Direktur
Jenderal ILO.
Tema pertemuan "Realizing Decent
Work in Asia" membahas dua laporan dari
Direktur Jenderal ILO yaitu laporan tentang
"Decent work di Asian sejak tahun
2001 -2005 mengenai hasil usaha sosialisasi yang dijalankan ILO diberbagai negara
dan ditingkat regional dan laporan tentang
"Realizing Decent work" di Asia yang
menitik beratkan pada 5 (lima) aspek utama
yang merupakan hal penting untuk merealisasikan "decent work."
Ke lima aspek utama tersebut adalah
mempromosikan pertumbuhan produktifitas
dan lingkungan kerja yang memadai
penyediaan kesempatan kerja yang memadai
untuk pekerja muda.mengatur pekerja
migran, pengaturan pasar kerja dan memperluas
proteksi sosial. Selain itu ada juga
pertemuan khusus para menteri tenaga kerja
serta sesi panel untuk kepala tingkat
regional dan internasional.
Delegasi Indonesia yang mewakili pemerintah
dipimpin oleh Harry H saleh.
wakil kalangan pengusaha diwakili oleh H. Hasanuddin Rachman
dan pimpinan wakil pekerja adalah BuYung Marizal.
pentingnya pertemuan ILO di Korea. T . Suzuki,
aktif di organisaspi engusahad imulai
sejak tahun 1943 dan anggota Government
Body Intemational Labor Organisation, mengatakan,
keterlibatannya di organisasi pengusaha
sampai dengan tingkat Asia dan
dunia adalah didasari niatnya membentuk
para pengusaha yang baik yang mengerti
hak dan kewajibannya.
Dengan menjadi pengusaha yang baik,
kata Suzuki, yang senang mendengarkan
musik, melakukan perjalanan, belajar hal
baru, bermain golf, dan bersepeda,maka
akan tercipta hubungan industrial yang
harmonis antara pengusaha dan pekerja.
Sementara itu, AW Tabani,dari Asosiasi
Pengusaha Pakistan,menegaskan, dengan
membuat keadaan ketenaga kerjaan yang
baik maka akan dihasilkan perjanjian yang
adil, dan membuat tingkat kehidupan masyarakat
dan negara menjadi lebih baik
Tabani, anggota Government Body International
Labor Organisation sejak tahun
1990 yang sering memanfaatkan waktu
luangnya digunakan untuk mendengarkan
musik klasik kegemarannya, olahraga jalan
kaki dan sesekali berenang, mengatakan,
kiprahnya di ILO, baik tingkat Asia maupun
dunia adalah dalam upaya melindungi kepentingan
pengusaha dan investasi nasional.
"Ini agar iklim usaha berjalan dengan
baik, dan tenaga kerja semakin banyak
yang terserap," kata Tabrani yang
pernah menjabat menteri keuangan dan industri
serta sebagai gubernur di Pakistan.
Peserta lain yang juga terlibat aktif dalam
sidang ILO di Korea adalah A.Dahlan,
wakil Pengusaha Arab Saudi yang telah mengikuti
berbagai sidang ILO selama 25.
Dalam pertemuan di Busan ia aktif memberikan
masukan dalam rangka peningkatan kualitas
SDM pekerja migran dan perbaikan lingkungan
kerja yang layak bagi pekerja. Dahlan
juga memberi masukan untuk meningkatan
kualitas TKI/TKW Indonesia yang
dikirim ke sana dan menjajaki kemungkinan
kerjasama program bagi wanita pekerja
mandiri.
Bagi Indonesia,sidang ILO di Korea sebenarnya
memiliki arti yang sangat strategis
jika dimanfaatkan dengan baik. Sayangnya
Indonesia dengan jumlah delegasi yang banyak
kurang mampu berperan aktif dalam
sidang dan acara terkait. Oleh karena itu,
agar sidang semacam ini bisa memberi hasil
optimal,ada baiknya jika sebelum acara berlangsung
diadakan pertemuan berkala antar
delegasi tripartit untuk menyamakan langkah
atau saling memberi informasi agar sebagai
delegasi RI lebih terkoordinasi

Kamis, 09 April 2009